Feeds:
Posts
Comments
Setelah disposable diaper dibuat pertama kali oleh Victor Miller di tahun 1950, nama Pampers langsung melejit dan menjadi populer di seluruh dunia. Orangtua merasa senang dengan inovasi popok modern ini. Bagi mereka, disposable diaper adalah solusi yang tepat untuk masalah pipis dan berak para bayi. Selain bayi bisa tidur tenang karena “tidak terganggu” basah, orangtua pun senang karena tidak perlu mendengar tangis bayi karena ngompol. Tapi beberapa waktu lalu, sebuah penelitian memaparkan kalau disposable diaper sangat tidak aman bagi bayi. Selain masalah ruam popok, disposable diaper disebut-sebut sebagai salah satu pemicu munculnya kanker dan kemandulan.
Seorang ibu rumah tangga bercerita kalau bayinya yang berumur satu bulan mengalami ruam popok setelah memakai disposable diaper. Ia mencoba beberapa diaper dari yang murah hingga yang mahal (produk impor) tapi hasilnya tetap sama, daerah di sekitar pantat bayi menjadi kemerahan dan nampak lecet. Ia berpikir kalau disposable diaper akan membuat bayinya tetap kering seperti yang diiklankan di televisi, dan terhindar dari ruam popok.
Tapi nyatanya?. Bayi mungilnya tak urung sembuh. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk kembali ke popok kain. Memang pada awalnya, ia rela membayar mahal demi kenyamanan bayinya dengan popok modern. Namun setelah berpikir untung ruginya, ia menyadari kalau popok kain adalah pilihan terbaik untuk putranya. Lain halnya dengan ibu tadi yang hanya dipusingkan dengan masalah ruam popok,
Consumer Protection Agency melaporkan masalah sehubungan dengan pemakaian disposable diaper, mulai dari pembakaran bahan kimia, pemakaian bahan kimia
berbahaya dan bau insektisida sampai kelakuan bayi yang sering menarik dan meletakkan disposable diaper ke hidungnya atau mulutnya.
Menurut laporan Journal of Pediatrics terdapat 54% bayi berumur 1 bulan yang mengalami ruam popok setelah memakai disposable diaper. Dalam artikel yang berjudul Disposable Diapers : Potential Health Hazards, Cathy Allison menyatakan kalau Procter & Gamble (produsen Pampers dan Huggies) melalui penelitiannya memperoleh data mencengangkan. Angka ruam popok pada bayi yang menggunakan disposable diaper meningkat dari 7,1% hingga 61%. Sementara itu Mark Fearer dalam artikelnya yang berjudul Diaper Debate-Not Over Yet menyatakan beberapa hasil studi medis menunjukkan angka peningkatan ruam popok dari 7% pada tahun 1955 sampai 78% pada tahun 1991.
Penyebaran ruam popok merupakan fenomena yang terjadi di permukaan disposable diaper. Hal itu disebabkan oleh alergi terhadap bahan kimia, kurangnya udara, temperatur tinggi karena dilapisi plastik yang sifatnya mempertahankan kalor (panas) di area popok, dan bayi jarang ganti karena mereka merasa kering meskipun pantat dalam keadaan lembab (basah).
Sebenarnya masalah ruam popok bisa diatasi dengan mengganti diaper sesering mungkin. Procter & Gamble melaporkan kalau rata-rata konsumen produk mereka mengganti diaper 5 kali sehari. Tapi beberapa peneliti dan ahli medis menyarankan agar mengganti diaper setiap 2 jam sekali. Jika masalahnya hanya ruam popok mungkin masih bisa dianggap enteng, orangtua hanya perlu membayar lebih mahal (dengan sering mengganti diaper) supaya bayinya bebas ruam popok. Tapi bagaimana dengan isu kanker dan kemandulan yang dikait-kaitkan dengan disposable diaper?
Pemicu Kanker dan Kemandulan
Pada tahun 2000 beberapa peneliti dari Universitas Kiel, Jerman melakukan sebuah riset mengenai Archives of Desease in Childhood yang dimuat dalam British Medical Journal. Penelitian yang melibatkan 48 bayi laki-laki itu dilakukan selama setahun untuk mengetahui efek yang ditimbulkan oleh disposable diaper. Para peneliti yang melakukan studi tersebut melaporkan bahwa bayi laki-laki yang menggunakan disposable diaper temperatur skortumnya (kantung kemaluan) mengalami kenaikan beberapa derajat dibanding yang tidak memakai.. Bagi seorang bayi laki-laki yang skortumnya sedang berkembang, hal tersebut merupakan perkara yang serius. Karena untuk memproduksi sperma dalam jumlah yang banyak, skortum harus bisa menjaga temperatur testis supaya suhunya lebih rendah dari suhu badan. Oleh sebab itu kenaikan satu derajat pun akan merusak kinerja skortum sebagai “mesin pendingin” testis.. Tentu saja fenomena ini akan membuat produksi sperma terganggu, yang berarti
kesuburan pria akan menurun. Peneliti yang melakukan studi tersebut menyatakan, “peningkatan temperatur skortum yang disebabkan oleh pemakaian disposable diaper akan mempengaruhi kualitas sperma bayi laki-laki dan meningkatkan angka terjadinya kanker testis di usia dewasa.” Mereka juga mengatakan kalau fisiologi mekanisme pendingin testis mengalami kerusakan secara signifikan.
Dalam melakukan studinya mereka juga meneliti pria Eropa yang lahir pada tahun 1975 (tidak lama setelah disposable diaper menjadi begitu populer dan digandrungi) . Para peneliti itu terkejut dengan penemuannya, ternyata jumlah sperma pria Eropa mengalami penurunan hingga 25% dalam 25 tahun terakhir. Sekitar 27000 pria Inggris yang sudah menikah menjalani perawatan ketidaksuburan setiap tahunnya, dan angka kejadiannya meningkat hingga 55% pada tahun 1995. Tim Hedgley, ketua National Fertility Assosiation mengatakan, “penelitian ini begitu mengejutkan dan penting untuk diketahui.”
Sementara itu, Dr. Simon Fishel, direktur Centre of Assisted Reproduction (Nottingham, Inggris) mengatakan, “teori tersebut sangat masuk akal dan saya tidak terkejut dengan hasilnya. Bagaimana pun disposable diaper dapat meningkatkan temperatur skortum bayi laki-laki dan tentu saja hal itu merupakan masalah besar karena kinerja skortum akan terganggu.” Sayangnya produksi besar-besaran disposable diaper tidak disertai penelitian terlebih dahulu terhadap efek sampingnya. Sehingga ada kemungkinan angka kejadian akan terus meningkat seiring dengan kurangnya pemahaman masyarakat tentang efek jangka panjang yang ditimbulkan oleh pemakaian disposable diaper.
Bahan Kimia Berbahaya dalam Disposable Diaper
Isu kenyamanan yang digencarkan oleh produsen diaper selalu berkisar pada masalah daya serap tinggi yang membuat kulit bayi tetap kering. Yah, tentu saja, Sodium Polyacrylate memang bisa bekerja sebagai super absorbent yang hebat, bahan yang berbentuk serbuk sebelum dicampurkan pada lapisan dalam disposable diaper memiliki daya serap lebih dari 100 kali dari beratnya di dalam air. Bahan kimia inilah yang mengubah cairan menjadi gel yang akan menempel di kulit bayi dan menimbulkan reaksi alergi. Disamping itu, bahan ini juga dicurigai sebagai biang keladi iritasi kulit dan demam. Ketika disuntikkan pada tikus percobaan menimbulkan hemorhage, kegagalan kardivaskuler, bahkan kematian. Anak-anak bisa terbunuh jika menelan 5 gram Sodium Polycrylate. Selain itu, bahan ini juga merusak daya tahan tubuh dan menurunkan berat badan para pekerja pabrik yang memproduksinya.
Bahan kimia lain yang terkenal tingkat bahayanya adalah dioxin. Dioxin dihasilkan dari proses produksi pemutih kertas. Sementara itu proses produksi disposable diaper menggunakan dioxin dalam bentuk gas klorin. Dalam artikel yang berjudul “Whitewash; Exposing the health and environmental dangers of woman’s sanitary product and dsposable diaper – what you can do about it”, Liz Amstrong dan Adrienne Scott menyatakan kebanyakan industri kertas melakukan proses pemutihan dengan menggunakan pulp whiter daripada klorin. Penyebabnya tak lain adalah bahan kimia yang termasuk dalam organoklorin (termasuk di dalamnya dioxin) ini sangat beracun dan bersifat persisten (menetap dalam tubuh).
Tributyl Tin (TBT) juga termasuk bahan yang digunakan dalam produksi disposable diaper. Bahan kimia ini selain menyebabkan pencemaran lingkungan juga sangat beracun. Penyebarannya bisa melalui kulit, jadi bisa dibayangkan tingkat bahayanya kalau kulit bayi yang sensitif memakai diaper yang mengandung TBT. Karena saking beracunnya bahan kimia ini dalam konsentrasi yang sangat kecil pun bisa mengakibatkan gangguan hormon disamping mengganggu sistem kekebalan tubuh. Tak tanggung-tanggung, orangtua yang memiliki bayi laki-laki perlu waspada karena bahan ini bisa menyebabkan kemandulan (pada bayi laki-laki). Ginny Caldwell dalam artikelnya yang berjudul Diapers. Disposable or Cotton?, menyatakan bahwa kerusakan dalam sistem saraf pusat, ginjal dan lever bisa disebabkan oleh bahan-bahan kimia berbahaya yang ditemukan dalam disposable diaper.
Pada tahun 1999 The Archive of Environtmental Health melaporkan sebuah studi yang dilakukan oleh Anderson Laboratories. Dalam studi tersebut mereka membuka kemasan diaper lalu meletakkannya di dekat tikus-tikus percobaan. Tikus-tikus yang terekspos diaper tersebut menderita bronchoconstriction yang menyerupai serangan asma Tak hanya itu, tikus-tikus tersebut juga mengalami iritasi mata, kulit dan tenggorokan. Di dalam sebuah ruangan yang luas sekalipun emisi dari disposable diaper cukup mampu membuat tikus-tikus ini terserang asma. Bahan kimia yang ditemukan dalam disposable diaper yang mampu menyebabkan iritasi tenggorokan antara lain tolune, xylene, ethylbenzene, styrene, dan isopropylbenzene.
Tentu saja berbeda dengan popok kain yang terkenal aman karena tidak mengandung bahan kimia. Tikus-tikus percobaan tidak mengalami gangguan pernafasan seperti tikus-tikus yang terkena emisi diaposable diaper. Jadi sekarang saatnya mempertimbangkan lagi penggunaan disposable diaper supaya bayi aman dari efek jangka panjang yang ditimbulkan oleh disposable diaper.

SUMBER milis asiforbaby

*tanpa bermaksud mendiskreditkan merk terterntu

Popok Kain atau Popok Sekali Pakai?

Ini adalah debat yang paling seru di antara orang tua baru dan ibu-ibu muda, malah menjadi pembicaraan yang seru antara suami dan istri jauh sebelum anak mereka lahir.

Kita selalu bingung soal mau pakai popok kain yang bisa dipakai ulang, atau popok yang sekali pakai-buang. Kalau anda sudah punya anak mungkin akan merasakan dilema ini. Seorang anak dapat menggunakan 6000 hingga bahkan 8000 popok sekali pakai. Bayangkan uang yang harus dikeluarkan untuk membeli popok sebanyak ini yang akhirnya juga dibuang, dan menimbulkan masalah.

Karena itu kita harus tahu keuntungan dan kerugian dari masing-masing.

Keuntungan popok sekali pakai:

  • Anak bisa tidur lebih tenang karena tidak terusik oleh popok yang basah terutama ketika tidur di malam hari
  • Praktis terutama untuk pergi jalan-jalan
  • Tidak perlu mencuci sehingga hemat air dan deterjen
  • Orang tua gak repot-repot ganti popok, jadi langsung buang saja
  • Mengurangi biduren (rash)

Kerugian popok sekali pakai:

  • Sampah popok sulit di daur ulang. Diperkirakan popok membutuhkan waktu 200-500 tahun untuk benar-benar terdaur ulang. Beberapa perusahaan mulai mengusahakan popok yang mudah di daur ulang.
  • Sampah popok dapat merusak lingkungan. Sampah popok yang tertimbun di Tempat Pembuangan Akhir bisa mencemarkan lingkungan karena bila terkena hujan, isi dari popok tersebut dapat masuk ke dalam tanah (bersama dengan sampah lainnya) dan mencemari air tanah.
  • Biaya yang tinggi. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Memang beli tidak banyak tetapi kalau terus menerus selama beberapa tahun, sebenarnya keluarga anda bisa memakai uang tersebut untuk kebutuhan lainnya
  • Menggunakan banyak bahan kimia, plastik, kayu
  • Resiko kesehatan! Ada bukti dari penelitian untuk korelasi antara popok sekali pakai dan kesuburan pria. Bila bayi anda memakai popok sekali pakai, maka popok tersebut akan menaikkan temperatur testis anak anda dan dapat mengurangi produksi sperma. Penelitian masih dilanjutkan untuk bukti-bukti lainnya

Keuntungan memakai popok kain:

  • Biaya! Jelas memakai popok kain lebih murah karena kita hanya perlu membeli mungkin 1-2 lusin popok kain dibandingkan membeli popok sekali pakai setiap minggu.
  • Bisa dipakai kembali. Bila anak kita sudah bisa dilatih menggunakan toilet, maka popok kain tetap dapat dipakai kembali bila perlu, dapat disimpan untuk anak berikutnya, dapat diberikan kepada orang lain yang membutuhkan, atau bisa menjadi kain lap/majun untuk bersih-bersih di rumah
  • Mengurangi sampah. Bayangkan bila 1 bayi bisa menghasilkan 6000 popok sekali pakai dan dibuang ke TPA. Ada berapa bayi di Indonesia?
  • Bisa didaur ulang. Bila popok sudah tidak terpakai dan dibuang dapat terdaur kembali karena bahan dari katun
  • Berbahan dasar kapas. Kapas jauh lebih baik dibandingkan bahan popok sekali pakai yaitu plastik. Kapas juga bisa diperbaharui/ditanam kembali, tidak seperti plastik yang berbahan dasar minyak

Kerugian memakai popok kain:

  • Menggunakan banyak air, deterjen dan listrik
  • Berbahan dasar kapas. Walaupun dapat diperbaharui, tetapi bila menanam kapas yang non-organik akan menggunakan pupuk dan pestisida yang berbahaya untuk lingkungan
  • Kurang nyaman untuk bayi. Memakai popok kain ukurannya tidak pas seperti popok sekali pakai yang lebih enak dipakai. Popok kain juga bisa bocor ke kiri/kanan karena tidak tertutup rapat. Jadi untuk anak yang suka goyang bisa menyulitkan.

Jadi harus bagaimana?

Sekarang sudah mulai diproduksi popok reusable. Popok ini berbahan dasar kain, namun dilapisi dengan lapisan penyerap, untuk meminimalkan kebocoran. Popok ini bisa dicuci berulang-ulang

Ada merk yang menawarkan dengan kisaran harga Rp 200.000 per buah. Ada juga solusi yang lebih murah. Dengan harga Rp 200.000 juga, tapi dapet selusin.  Nah, kalau yang ini anda bisa menghubungi saya jika anda berminat  🙂

Contact me @ 081387675750 or email/YM ln_i@yahoo.com

note: artikel taken from http://akuinginhijau.org/2008/02/10/popok-kain-atau-popok-sekali-pakai/

Keberadaan popok sekali pakai, memudahkan kita membersihkan si kecil setelah ia buang air kecil atau bab (buang air besar).

Anda tinggal membuka perekat, memasangkannya pada si kecil, dan merekatkannya kembali.

Namun, seperti juga alat bantu perawatan si kecil yang lain, popok sekali pakai memiliki kelebih dan kekurangan yang perlu disiasati, agar penggunaannya optimal serta tidak merugikan kesehatan si kecil.

  • Lama pemakaian: Popok sekali pakai dapat menampung hingga 3 kali bayi berkemih. Kondisi ini disebabkan karena popok sekali pakai dilengkapi teknologi gel penyerap.
  • Kenyamanan: Teknologi pembuatan popok sekali pakai berkembang sangat pesat saat ini. Popok telah dibuat berpori sehingga tidak menghalangi sirkulasi udara pada kulit bayi. Jenis popok ini terasa nyaman bagi kulit bayi dan tidak melembapkan kulit.
  • Kepraktisan: Popok sekali pakai tidak perlu dibersihkan. Dapat langsung dibuang setelah dipakai. Dilengkapi pita perekat, sehingga lebih mudah digunakan.

 

  • Harga: Harga popok sekali pakai berbeda untuk setiap merk. Akibatnya kita tidak bisa mendapatkan standar harga. Agar mendapatkan popok yang baik dan relatif terjangkau kita harus rajin membadingkan harga beberapa popok. Hal ini penting dipertimbang-kan, karena popok sekali pakai cenderung dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak setiap bulan.
  • Dampak lingkungan: Karena tidak dapat dipakai lagi, popok sekali pakai menimbulkan tumpukan limbah.

 

source: www.conectique.com